BANDUNG, eljabar.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempercepat transformasi sistem pengelolaan sampah dengan menyiapkan pembangunan hingga 220 titik pengolahan sampah berbasis wilayah. Langkah ini menjadi strategi utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti yang saat ini menghadapi hutang kuota, sekaligus mengatasi timbulnya sampah Kota Bandung yang mencapai sekitar 1.511 ton per hari.
Komitmen tersebut mengemuka dalam Sonata Talkshow berkolaborasi dengan PR FM, Selasa (30/06/2026), yang menghadirkan Ketua Tim Pengurangan Sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung, Syahriani, STdan Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Nunung Nurasiah, S.Pd.
Syahriani mengatakan, pengambilan kuota di TPA Sarimukti harus menjadi momentum perubahan menuju sistem pengelolaan sampah yang lebih modern dan berkelanjutan. Menurutnya, pola lama “kumpul, angkut, buang” tidak lagi relevan sehingga sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya melalui pengelolaan di tingkat rumah tangga dan kewilayahan.
“Pembatasan kuota TPA Sarimukti harus menjadi momentum perubahan. Kota Bandung tidak bisa lagi bergantung pada pola lama ‘kumpul, angkut, buang’. Ke depan, sampah harus diselesaikan sedekat mungkin dengan sumbernya,” katanya.
Sebagai bagian dari transformasi tersebut, Pemkot Bandung tengah menginventarisasi lokasi pembangunan hingga 220 fasilitas pengolahan sampah di berbagai wilayah. Program ini juga mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui rencana penerapan teknologi Tolak Bahan Bakar Turunan (RDF)serta dukungan Mabes TNI AD berupa bantuan mesin pengolahan sampah.
Melalui penambahan fasilitas tersebut, Pemkot Bandung bertujuan mengurangi timbulnya sampah antara lain 125 hingga 250 ton per hari. Pengelolaan dilakukan sesuai karakteristik sampah, yaitu sampah organik diolah menjadi kompos atau melalui teknologi organik lainnya, sampah anorganik bernilai ekonomi disalurkan ke bank sampah dan mitra daur ulang, sedangkan sampah bernilai rendah akan dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif melalui teknologi RDF.
Syahriani menegaskan keberhasilan program tidak hanya bergantung pada penyediaan teknologi, tetapi juga mengubah perilaku masyarakat dalam memilah dan mengurangi sampah sejak dari rumah tangga. Seluruh lokasi pembangunan nantinya juga akan melalui verifikasi teknis dan sosial agar tidak menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar.
Sementara itu, Anggota Komisi III DPRD Kota Bandung, Nunung Nurasiah, menyatakan dukungan penuh terhadap percepatan penanganan sampah melalui fungsi legislasi, penganggaran, dan pengawasan. Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada kolaborasi seluruh pihak, mulai dari pemerintah, DPRD, dunia usaha, komunitas, hingga masyarakat. Pendidikan mengenai budaya memilah sampah juga harus terus diperkuat agar pengurangan sampah benar-benar dimulai dari sumbernya dan menjadi budaya masyarakat baru Kota Bandung. *merah