BOGOR, elJabar.com — Sejumlah mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) melaksanakan Program Penguatan Kapasitas Organisasi Kemahasiswaan (PPK Ormawa) FMSC tahun 2026, di Cafe Coffee Patani, Desa Berengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Selasa (7/7/2026).
Pada kesempatan itu, rombongan Barisan Relawan Jalan Perubahan (Bara JP) Bogor Raya yang ikut terlibat memberikan motivasi agar mahasiswa tersebut melaksanakan program inisiatif Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendikti Saintek) itu, guna melatih soft skill dan kepemimpinan mahasiswa melalui pengabdian serta pemberdayaan masyarakat.
Ketua Tim Penggerak Mahasiswa, Rohmat Hidayatulloh sempat berbincang-bincang dengan Wasekjen DPP BaraJP, Jonny Sirait beserta pengurus BaraJP Bogor Raya lainnya, seperti Didi Hardiansah (Sekretaris), Sri Ratnaningsih atau Teh Nci (Bendahara), Alby (Wakil Sekretaris) dan Pembina BaraJP Leuwiliang, Tisnafatwa.
Rohmat menjelaskan, PPK Ormawa FMSC 2026 merupakan program pemberdayaan masyarakat yang bertujuan meningkatkan kapasitas organisasi kemahasiswaan melalui penerapan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi dalam menyelesaikan permasalahan yang dihadapi masyarakat.
“PPK Ormawa Forest Management Students’ Club (FMSC) menginisiasi program BARAKSA (Barengkok Raksa) sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat Desa Barengkok, Kecamatan Leuwiliang, Kabupaten Bogor, yang dirancang berdasarkan hasil identifikasi potensi, permasalahan, dan kebutuhan masyarakat desa,” papar Rohmat.
Ia menambahkan, program BARAKSA dilaksanakan melalui pendekatan Catur Raksa yang mencakup empat aspek utama, yaitu lingkungan (Raksa Buana), ekonomi (Raksa Pakasaban), pendidikan (Raksa Atikan), dan kesehatan (Raksa Waringkas).
Permasalahan Desa Barengkok
Selain itu, Rohmat memberkan sejumlah persoalan yang ada di Desa Barengkok, yakni sebagai berikut:
- Kurangnya optimalisasi lahan agroforestri dari pemanfaatan limbah kehutanan serta belum optimalnya kelembagaan secara berkelanjutan.
- Rendahnya pendapatan masyarakat Desa Barengkok dari komoditas utama (manggis, kopi, durian) dan rendahnya penerapan teknologi tepat guna dalam pengolahan hasil panen serta kelembagaan yang mewadahinya.
- Kurangnya pengetahuan dan lembaga pendidikan non-formal terkait lingkungan.
- Rendahnya tingkat kesehatan gigi dan mulut serta belum optimalnya lembaga yang mewadahinya.
- Belum adanya kelembagaan sebagai wadah koordinasi antar kelompok pemberdayaan di masyarakat.
“Hasil diskusi tim pelaksana PPK Ormawa FMSC bersama masyarakat di Desa Barengkok, serta dosen pakar menghasilkan solusi BARAKSA dengan fokus Catur Raksa (4 aspek), yaitu Raksa Buana (aspek lingkungan), Raksa Pakasaban (aspek ekonomi), Raksa Atikan (aspek pendidikan), dan Raksa Waringkas (aspek kesehatan),” ungkapnya.
Lebih lanjut Rohmat menyampaikan secara rinci empat aspek tersebut:
- Integrasi sistem Circular Ecosmartforest berbasis agroforestri melalui kelompok Gapoktan “Sadérék” untuk meminimalkan limbah kehutanan dan pertanian (Raksa Buana).
- Diversifikasi produk turunan HHBK, KoMang (Kopi Manggis), RiU (Risol Ubi Ungu), BAJATI (Bakso Jamur Tiram), EBiD (Emping Biji Durian) menggunakan teknologi tepat guna Smartforest LB01 untuk meningkatkan nilai ekonomi dengan pembentukan kelompok Koperasi “Baraksa” (Raksa Pakasaban).
- Pembentukan kelompok Ngajar Lingkungan Sehat (NgaLiS) dan edukasi Modul Ajar Ekonomi Sirkular (MAES) (Raksa Atikan).
- Sosialisasi inovasi Syjinak untuk meningkatkan kesehatan gigi dan mulut, disertai penanaman TOGA sebagai bahan baku utama melalui lembaga KWT “Baraya” (Raksa Waringkas).
- Membentuk KTH Barengkok Catur Raksa (BCR) sebagai wadah koordinasi antar kelompok pemberdayaan di masyarakat.
“PPK Ormawa FMSC bersama Mitra Patani Coffe dan masyarakat Desa Barengkok membantu dalam pembuatan teknologi tepat guna Smartforest LB01 yang merupakan teknologi harapan masyarakat desa bersamakok dalam pengelolaan komoditas unggulan seperti Kopi, durian dan manggis,” terang Rohmat.
Selain itu, menambahkan, tim PPK Ormawa membantu dalam pembuatan Kompos untuk meminimalkan sampah rumah tangga yang ada di Patani Coffe.
BaraJP Mendukung Penuh
Di tempat yang sama, Wasekjen DPP BaraJP, Jonny Sirait mengaku sangat mendukung penuh program-program yang dirancang Rohmat cs, khususnya dalam hal pemberdayaan masyarakat.
“Mahasiswa berperan aktif dalam pemberdayaan masyarakat sebagai agen perubahan, motivator, dan fasilitator melalui penerapan ilmu pengetahuan, pendampingan program sosial, serta pengabdian langsung di lapangan,” katanya.
Jonny berpendapat, sudah saatnya pelajar sebagai generasi bangsa tampil sebagai Agen Perubahan yang membawa pembaruan pola pikir dan inovasi bagi warga masyarakat.
“BaraJP optimis, adik-adik mahasiswa bisa menjadi sebagai fasilitator dan pendamping yang membantu menjembatani kebutuhan warga juga sebagai motivator yang mendorong semangat warga agar lebih mandiri dan aktif berpartisipasi serta sebagai kontributor ilmu yang membagikan keahlian akademis untuk memecahkan masalah lokal,” tandasnya. (bnh)