BANDUNG, eljabar.com — Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung mempercepat upaya penghijauan melalui Program Rehabilitasi Ruang Publik dan Ruang Terbuka Hijau (Rindu Rindang) sebagai solusi jangka panjang dalam menangani ancaman krisis udara dan bencana hidrometeorologi.
Program tersebut ditandai dengan penanaman pohon perdana di RW 09, Kelurahan Pasirwangi, Kecamatan Ujungberung, Rabu (22/07/2026).
Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, mengatakan penanaman pohon bukan sekedar mempercantik lingkungan, melainkan investasi jangka panjang untuk meningkatkan daya dukung lingkungan, menjaga ketersediaan air tanah, serta memperkuat ketahanan Kota Bandung dalam menghadapi dampak perubahan iklim.
“Kalau dibandingkan antara pembangunan fisik dengan penghijauan memang masih jauh.Tetapi upayanya tidak boleh berhenti. Ruang terbuka hijau kita masih di bawah 15 persen. Karena itu setiap penanaman pohon menjadi sangat penting agar vegetasi terus bertambah dan tercatat dalam peningkatan indeks ruang terbuka hijau,” ujar Farhan.
Menurut Farhan, keberhasilan menjaga lingkungan harus dimulai dari kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat. Ia mengapresiasi inisiatif warga RW 09 Pasirwangi yang memulai gerakan penghijauan dan kemudian mendapat dukungan dari pemerintah melalui berbagai perangkat daerah.
“Saya selalu mengatakan, jika masyarakat sudah punya inisiatif, pemerintah siap mendukung. Cara seperti ini jauh lebih efektif karena masyarakat ikut memiliki dan ikut menjaga hasil pembangunannya,” ujarnya.
Farhan menilai tantangan terbesar bukan hanya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya ruang hijau, namun juga mempertahankan lahan dari tekanan alih fungsi.
Ia mengingatkan kawasan yang saat ini masih hijau berpotensi menjadi sasaran pembangunan jika tidak dijaga secara bersama.
“Kota Bandung membutuhkan investasi, tapi kita juga membutuhkan lingkungan yang tetap lestari. Keseimbangan itu harus terus dijaga agar pembangunan tidak menyumbangkan daya dukungan lingkungan,” ujarnya.
Farhan juga mengajak masyarakat memandang penghijauan sebagai bagian dari mitigasi bencana. Menurutnya, rasa aman tidak hanya terbebas dari tindak kriminalitas, tetapi juga terlindungi dari ancaman bencana akibat kerusakan lingkungan.
“Kita harus membangun masyarakat yang tangguh terhadap bencana. Mudah-mudahan kita tidak pernah diuji dengan musikbah, tetapi kita tetap harus bersiap. Salah satunya dengan mencegah bencana melalui penghijauan seperti yang kita lakukan hari ini,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan peristiwa angin kencang pada 3 April lalu yang menyebabkan hampir 100 pohon tumbang di berbagai titik Kota Bandung. Berkat penanganan cepat di seluruh perangkat daerah, dampak kejadian tersebut dapat diatasi dalam waktu singkat sehingga aktivitas masyarakat, termasuk kegiatan belajar mengajar, tetap berjalan normal.
“Itu menunjukkan Kota Bandung memiliki ketangguhan.Tetapi yang lebih penting adalah bagaimana kita mencegah bencana agar dampaknya semakin kecil,” katanya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung, Didi Ruswandi, menjelaskan penghijauan merupakan solusi paling efektif untuk mengatasi ancaman krisis udara yang mulai dirasakan di sejumlah wilayah Kota Bandung.
Berdasarkan pendataan BPBD, terdapat 13 kecamatan dan 24 kelurahan yang berpotensi mengalami krisis air bersih, meliputi 114 RW, 167 RT, serta 6.353 kepala keluarga atau sekitar 23.379 jiwa.
Untuk memenuhi kebutuhan minimum warga terdampak, dibutuhkan sekitar 331.695 liter air bersih setiap hari, setara dengan sekitar 70 mobil tangki air. Jika kondisi tersebut berlangsung selama satu bulan, kebutuhan distribusi udara diperkirakan mencapai hampir 2.200 mobil tangki.
“Kalau hanya mengandalkan distribusi air bersih, tentu biayanya sangat besar. Solusi permanennya adalah meningkatkan resapan air melalui penghijauan dan penambahan ruang terbuka hijau,” ujar Didi.
Ia menjelaskan kawasan hijau mampu menyerap sebagian besar air hujan sehingga dapat mengurangi limpasan permukaan yang memicu banjir sekaligus meningkatkan cadangan air tanah saat musim kemarau.
Sebagai inovasi, BPBD Kota Bandung juga menerapkan metode irigasi mikroskop untuk menjaga tingkat keberhasilan tanaman selama musim kemarau. Cara tersebut memanfaatkan botol berisi udara yang ditanam di dekat pohon sehingga kelembapan tanah tetap terjaga secara bertahap.
Program Rindu Rindang akan berlangsung hingga Oktober 2026 melalui penanaman pohon di berbagai titik, rehabilitasi ruang publik, serta penguatan edukasi kebencanaan kepada masyarakat. *merah