SUMEDANG, elJabar.com — Kabupaten Sumedang dinilai sebagai kabupaten yang bergerak paling cepat dan paling progresif di antara tujuh daerah dalam ekosistem Rebana.
Kawasan Rebana telah menjadi koridor ekonomi baru yang strategis bagi Provinsi Jawa Barat. Kawasan ini mencakup tujuh kabupaten/kota seperti Cirebon, Subang, Indramayu, Majalengka, Kuningan, Sumedang, dan Kota Cirebon.
“Dipimpin Bupati Dony Ahmad Munir, Sumedang tampil sebagai kabupaten yang bukan hanya siap menyambut investasi, tetapi juga telah menyiapkan fondasi infrastruktur digital yang kuat,” kata Deputy CEO BP Rebana, Budhiana Kartawijaya usai menjadi moderator sesi CEO Talk dalam West Java Investment Summit (WJIS), Jumat lalu.
WJIS merupakan forum ekonomi tahunan yang ke-7 digelar Pemerintah Provinsi Jawa Barat bersama Kantor Bank Indonesia Perwakilan Jawa Barat, akhir pekan kemarin.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menjadi salah satu Pembicara di CEO Talks for West Java New Economic Corridor “How West Java Wins: Leveraging Trade, Technology, and Talent for Global Success. Bupati Dony menyamilam komitmen Sumedang yang terbuka dan antusias terhadap investor. Sumedang juga menyiapkan regulasinya dengan kemudahan berinvestasi dan pemberian insentif.
Menurut Budhiana yang juga mantan pemimpin redaksi Pikiran Rakyat, Sumedang memiliki enam gerbang keluar di sepanjang Tol Cisumdawu, akses istimewa yang tidak dimiliki daerah lain.
“Ini menjadikan Sumedang hanya berjarak beberapa menit dari Bandung di barat dan Bandara Kertajati di timur,” katanya.
Selain itu, terang Budhiana, Sumedang memiliki ekosistem pendidikan yang subur. Kecamatan Jatinangor menjadi pusat ilmu pengetahuan, perguruan tinggi top ada di sana.
Di pusat kota Sumedang juga ada perguruan tinggi dan saat ini beberapa perguruan tinggi menjalin kerjasama dengan Pemkab Sumedang untuk membuka kampus.
“Perguruan tinggi yang melahirkan talenta muda bagi industri manufaktur, digital, dan jasa,” kata Budhiana.
Di sektor infrastruktur udara, Sumedang diperkuat kehadiran beberapa bendungan mulai dari Bendungan Jatigede, Cipanas di Ujungjaya dan Sadawarna di Surian.
“Bendungan Jatigede salah satu bendungan terbesar di Indonesia, yang menjadi tulang punggung air baku, pariwisata, dan energi,” katanya.
Menurut Budhiana, Sumedang memiliki modal besar di sektor pariwisata. Panorama Bendungan Jatigede, kawasan perbukitan, kuliner lokal seperti tahu Sumedang, serta tradisi budaya yang kuat memberi peluang lahirnya destinasi unggulan baru.
“Dengan akses Cisumdawu yang sangat cepat, Sumedang dapat menjadi destinasi one-day trip bagi Bandung dan Cirebon, sekaligus weekend getaway bagi wisatawan Jabodetabek,” katanya.
Apalagi yang jelas, jika dikelola dengan konsep green Tourism dan Smart Tourism, Sumedang bisa menjadi wajah baru pariwisata Jawa Barat bagian timur.
“Keunikan budaya harus dipertahankan agar jadi ciri unik dan menarik. Infrastruktur dan Budaya adalah dua sisi mata uang. Tak boleh pembangunan infrastruktur membunuh kultur, membunuh ciri-ciri budaya lokal,” paparnya.
Budhiana juga menilai, keunggulan Sumedang tidak berhenti pada perekonomian dan pariwisata. Kabupaten ini menjadi pelopor digitalisasi birokrasi di tingkat nasional.
Semua proses administrasi, mulai dari pembuatan KTP, KK, hingga layanan kesehatan, dilakukan secara cepat, transparan, dan mudah diakses.
“Dengan populasi sekitar 1,1 juta jiwa, bupati dapat memadukan pola penyakit, tren kesehatan, hingga kebutuhan layanan publik berdasarkan data real-time,” katanya.
Kondisi ini, lanjut Budhiana, membedakan Sumedang dari daerah lain. Keberanian melakukan digitalisasi pemerintahan secara radikal. Pemerintah kabupaten membangun platform invest.sumedangkab.go.id, sebuah portal modern yang memudahkan investor mengakses peluang, potensi lahan, regulasi, dan layanan.
“Semua melalui satu perjalanan yang terinspirasi. Platform ini menegaskan bahwa Sumedang tidak hanya membuka pintu bagi investor, tetapi juga menyediakan jalan yang terang, jelas, dan tanpa hambatan,” tegasnya.
Lebih menarik lagi, Sumedang membangun dashboard transparansi fiskal yang memungkinkan masyarakat mengetahui berapa uang masuk ke Sumedang dan digunakan untuk apa, bahkan pada level harian.
Dengan prinsip data yang baik, keputusan yang baik; data buruk, keputusan buruk, Sumedang menjadikan data sebagai milik publik.
“Prinsipnya jelas: memindahkan data ke masyarakat, bukan memindahkan masyarakat ke data. Ini adalah bentuk pemerintahan modern yang jarang ditemukan di daerah lain,” ujarnya.
Dengan seluruh capaian tersebut, Sumedang merupakan kabupaten yang paling siap menghadapi era pergeseran global hari ini. Sumedang menjadi contoh bagaimana pemerintah daerah bisa menyambut perekonomian global tanpa kehilangan akuntabilitas, transparansi, dan kedekatan dengan rakyat.
Pada cakupan yang lebih besar, Rebana Metropolitan akan terus berupaya menyiapkan enam kabupaten/kota lain agar mampu memasuki dunia connectography dengan percaya diri: digital, terhubung, kompetitif, dan inklusif.
“Jawa Barat ingin menang. Dan kemenangan itu harus dibangun dari konektivitas, keunggulan talenta, keberanian berubah, dan kemampuan membaca arah geopolitik global. Sumedang telah memulai langkah itu dan menjadi peta jalan bagi masa depan Jawa Barat,” tandasnya. (iseng / bersenandung)