BANDUNG, eljabar.com – Kejuaraan tinju dinilai memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas pelatihan atlet sekaligus menjadi sarana evaluasi hasil latihan yang selama ini dijalani di sasana. Melalui kompetisi resmi, atlet tidak hanya mengembangkan kemampuan teknik, tetapi juga membangun mental bertanding dan kesiapan menghadapi tekanan di atas ring.
Hal tersebut disampaikan Sekretaris Umum Pertina Jawa Barat, Rega Haruman, saat ditemui di pusat latihan tinju GOR Pajajaran Bandung, Rabu (24/06/2026), menanggapi rencana penyelenggaraan Boxing GRIB Jaya Bandung Boxing Camp 2026 yang diselenggarakan berlangsung pada 8–12 Juli 2026.
Menurut Rega, latihan rutin dan sparring memang menjadi bagian penting dalam proses pelatihan petinju. Namun, pengalaman tampil dalam pertandingan resmi memberikan manfaat yang jauh lebih besar karena atlet dituntut beradaptasi dengan atmosfer kompetisi yang sebenarnya.
“Kalau hanya sparring dengan teman mungkin biasa saja. Tapi suasana pertandingan itu yang membentuk atlet menjadi lebih baik,” ujarnya.
Ia menjelaskan, perkembangan olahraga tinju di Jawa Barat saat ini menunjukkan tren positif. Banyak sasana nasional yang aktif melakukan pembinaan dan melahirkan atlet-atlet muda potensial yang memiliki peluang berkembang hingga level maupun internasional.
Meski begitu, Rega menilai kesempatan bertanding yang berkesinambungan masih menjadi kebutuhan utama dalam proses pelatihan. Kejuaraan-kejuaraan seperti Boxing GRIB Jaya Bandung Boxing Camp 2026 dinilai mampu menjadi wadah bagi atlet untuk menambah jam terbang sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pelatih dalam menyusun program latihan berikutnya.
“Kejuaraan seperti ini sangat baik dan kami menyambutnya dengan antusias. Harapannya kegiatan seperti ini bisa lebih sering dilaksanakan supaya pelatihan lebih baik dan ada tolok ukur bagi atlet yang akan bertanding,” katanya.
Menurutnya, sebuah kompetisi tidak semata-mata menentukan siapa yang menang atau kalah. Pertandingan resmi juga menjadi sarana bagi atlet untuk mengukur kemampuan diri, mengelola tekanan saat bertanding, serta memperoleh pengalaman menghadapi lawan dengan karakter dan gaya bertinju yang berbeda-beda.
Peraturan tersebut menegaskan, penyelenggaraan pertandingan tinju harus mengikuti mekanisme dan regulasi yang berlaku. Sejumlah tahapan penting, mulai dari pemeriksaan kesehatan atlet, timbang badan, pembagian kelas usia dan berat badan, hingga kesiapan perangkat pertandingan harus dipersiapkan secara matang.
“Tinju memiliki aturan tersendiri yang harus dijalankan. Karena mekanisme pertandingan harus dipersiapkan dengan baik agar pelaksanaan berjalan lancar dan keselamatan atlet tetap menjadi prioritas,” jelasnya.
Ia menambahkan, kualitas sebuah pertandingan juga sangat dipengaruhi oleh profesionalisme perangkat pertandingan, terutama wasit dan hakim yang memimpin jalannya laga.
Pertina Jawa Barat berharap semakin banyak kejuaraan tinju yang digelar secara rutin dan berkesinambungan. Dengan demikian, atlet memiliki ruang kompetisi yang memadai, sementara pelatih dapat memiliki target pelatihan yang jelas serta bahan evaluasi yang terukur.
Selain itu, Rega juga mendorong para pelatih tinju yang belum memiliki sertifikasi resmi agar mengikuti program penataran dan pendidikan kepelatihan guna meningkatkan kualitas pelatihan atlet di level sasana.
“Pelatih-pelatih yang belum bersertifikat sebaiknya segera mengikuti penataran. Supaya atlet yang bina kualitasnya meningkat,” tutupnya. (**)