Bandung, Eljabar.com – Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, Menegaskan Bahwa Meskipun Persoalan Sampah Kini Tidak Lagi Menempati Peringkat Pertama Masalah Utama Di Kota Bandung, Isu Ini Tetap Menjadi Fokus Penanganan Serius Pemerintah Kota.
Saat ini, Tantangan Utama Yang Dihadapi Bandung Meliputi Kemacetan, Pengangguran, Sampah Serta Pengolahan.
“Dulu Masalah Nomor Satu Di Bandung Adalah Sampah. Sekarang Turun Ke Peringkat Tiga, Tapi Tetap Menjadi Prioritas. Saat Ini Masalah Utama Meliputi Kemacetan, Pengangguran, 25/2/an Balai (25/an,
DATA PEMKOT DATA PEMKOL, VOLUME SAMPAH YANG DIHASILKAN WARGA MENCAPAI 1.496,3 ton per hari. Dari Jumlah Tersebut, Sekitar 1.000 ton Masih Dibuang Ke TPA Sarimukti, Sementara 496,3 ton Suda Diolak Melalui Berbagai Metode. Di Antarananya:
* Insinerator (Teknologi Motah Yang Mampu Mengolak 8–16 ton Sampah per Hari),
* Kawasan Bebas Sampah (KBS),
* Bank Sampah,
* Program Reduce to Pupuk (RTF) di Sejumlah RW,
* Budidaya Belatung, Dan
* Pengomposan Mandiri.
“Alhamdulillah, 136 Titik Penumpukan Sampah Di Bandung Suda Tuntas Ditangani. Kini Fokusnya Tinggal Mengoptimalkan Pengolahan Di Tps,” Jelas Erwin.
Pemkot Bandung Menjalankan Strategi Tiga Tahap Dalam Pengelolaan SampahYaitu:
- PENIGANAN: Memastikan Sampah Tidak Lagi Menumpuk di Jalanan.
- PEMULIHAN: Memulihkan Kondisi Lingkungan di Sekitar Tps.
- PENORMALAN: SISTEM SISTEM SISTEM PENGAH TENGAH TENDAK TIJADI KEMBALI SAMPAH TIJADI KEMBALI.
SAAT INI, Terdapat 7–9 Unit Insinerator Yang Sudah Beroperasi Di Bandung. Beberapa di Antarananya Hasil Kerja Sama Gelangan Swasta, Pengadana APBD, Hingga Bantuan Dari Tni. PEMKOT BUGA TENGAH MENYIAPKAN TAMBAHAN 84 UNIT INSINERATOR DI Kawasan BANDUNG RAYA DENGAN KROYEKSI ANGGARAN SEKitar RP117 Miliar.
Selain Itu, Pemerintah Pusat Bersama Pemkot Bandung Dan Pemprov Jawa Barat Sedang Menyiapkan Transisi Ke Teknologi Tolak Bahan Bakar Turunan (RDF). Sampah Yang Diolah Menjadi Rdf Akan Digunakan Sebagai Bahan BaHan Alternatif untuk semen semen di Sukabumi.
“Program RDF INI Langsung Dari Presiden. BANDUNG AKAN MENJADI BAGIAN DARI PILOT PILIT TERSEBUT,” Tegas Erwin.
Dalam Pembiayaan, Pemkot Bandung Membuka Opsi Partnership Publik (PKS) DGEMA SKEMA Biaya Tipping Rp350.000 per ton. Namun, Sebagian Mesin Jaga Dibeli Dengar Dana Apbd.
Selain Itu, Program Pemkot Meluncurkan Prakarsa Yang Mengalokasikan RP200 Juta Per RW Yang Sudah Menjadi Kawasan Bebas Sampah (KBS) Dan RP100 Juta Untak Rw Yang Baru Memulai. Dana Tersebut Dapat Dapat Digunakan untuk Program Berbagai Pengelolaan Sampah Sesuai Kebutuhan Wilayah.
“Saya Berharap Tahun 2026 Semua Rw di Bandung Slahah Menjadi Kawasan Bebas Sampah. Target Tahun Ini Saja Minimal 700 RW Sudah Menerapkan KBS,” Kata Erwin.
SELURUH Pengoperasian Insinerator Di Banjung Tunduk Pada Regulasi Permen LHK No. 70/2016 Tentang Baku Mutu Emisi, Serta PP No. 22/2021 Tentang Kualitas Udara Ambien. Insinerator Motah Dipilih Karena Telah MeManUHI Standar Uji Emisi, Uji Sedimen, Dan Sertifikasi Rsni.
“Insinerator Motah Sudah Teruji Secara Laboratorium, Bahkan Abu Pembakarananya Bisa Dimanfaatkan untuk Bahan Paving Block Atau Campuran Semen,” Jelas Erwin.
UNTUK memastikan Keamanan, Pemkot Bandung Sensor Memasang Gas Emisi Buang Di Seluruh Insinerator. Targetnya, Pemasangan Sel di diesa Pada Akhir 2025.
Erwin Menankan Pentingnya Pengelolaan Sampah Di Tingkat Hulu. Ia BerharaP seluruh rw di Bandung Dapat Mengelola Sampah Secara Mandiri, Baik Melalui Bank Sampah, Maggotisasi, Kompos, Maupun RDF.
“Harapan Saya, Ke Depan Pengelolaan Sampah Bisa Selesai Di Tingkat Rw. Jadi Masyarakat Tenji Lagi Bergantung Pada Tpa. Bahkan Pengangan Sampah Nantinya Nantinya LaPay LaPaHi, Lauran Lauran, BUANNAN BUANAN IURAN IURAN IURAN. *merah