BOGOR, eljabar.com – Kodam III/Siliwangi mendorong perguruan tinggi di Indonesia untuk berperan aktif dalam memperkuat sumber daya pertahanan nasional melalui kolaborasi yang berdampak nyata, khususnya di bidang pendidikan, penelitian, inovasi teknologi, dan pengabdian kepada masyarakat.
Pangdam III/Siliwangi, Mayjen TNI Kosasih, SE, MM, menegaskan bahwa peran strategis perguruan tinggi sejalan dengan sistem pemerintahan semesta sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara.
Hal tersebut disampaikan dalam Seminar Nasional bertajuk “Dedikasi dan Intelektualitas Pakuan Siliwangi: Bersinergi Membangun Negeri” di Universitas Pakuan, pada Rabu, 6 Mei 2026.
“Perguruan Tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan, tetapi juga sebagai pusat pengetahuan, inovasi, dan penguatan kapasitas bangsa. Dalam konteks perlindungan modern, kampus dapat menjadi mitra strategis negara dalam menyiapkan talenta, teknologi, dan kebijakan berbasis bukti,” ujar Kosasih.
Peran Kampus dalam Sistem Pertahanan Semesta
Dalam sistem pertahanan semesta, pertahanan negara tidak hanya menjadi tanggung jawab Tentara Nasional Indonesia (TNI) sebagai komponen utama, tetapi juga melibatkan komponen cadangan dan pendukung.
Perguruan tinggi memiliki posisi penting sebagai komponen pendukung melalui:
* Pengembangan sumber daya manusia unggul
* Riset strategi berbasis kebutuhan nasional
* Penguatan nilai bela negara
* Dukungan terhadap kemandirian industri
Peran ini juga diperkuat oleh berbagai regulasi, antara lain:
*Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2025 tentang Tentara Nasional Indonesia
*Undang-Undang Nomor 16 Tahun 2012 tentang Industri Pertahanan
*Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2019 tentang Pengelolaan Sumber Daya Nasional untuk Pertahanan Negara
*Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2023 tentang Pengesahan Perjanjian Pertahanan RI–Singapura
Kolaborasi Harus Berdampak Nyata
Kosasih menekankan bahwa kerja sama antara perguruan tinggi dan sektor pertahanan tidak boleh berhenti pada penandatanganan nota kesepahaman semata, tetapi harus diwujudkan dalam program yang konkret, terukur, dan berkelanjutan.
Beberapa bentuk strategi kolaborasi yang dapat dikembangkan antara lain:
1.Kurikulum Pertahanan dan Keamanan
Pengembangan mata kuliah dan sertifikasi di bidang bela negara, keamanan siber, geopolitik, hingga krisis manajemen.
2.Riset Terapan Ancaman Nonmiliter
Pengembangan sistem deteksi ancaman siber, peta disinformasi, hingga teknologi mitigasi bencana.
3.Laboratorium Teknologi Pertahanan
Kolaborasi riset untuk pengembangan drone, radar, sistem nirawak, hingga teknologi maritim.
4.Alih Teknologi dan Kandungan Lokal
Pendampingan akademik dalam pengadaan alutsista guna meningkatkan kemandirian industri.
5.Program Magang Talenta Pertahanan
Mahasiswa lintas disiplin mendapatkan pengalaman langsung di sektor perlindungan.
6.KKN Tematik Bela Negara
Pengabdian pelajar di wilayah strategi seperti perbatasan dan daerah rawan bencana.
7.Pusat Kajian Operasi Militer Selain Perang
Dukungan terhadap penanggulangan bencana, bantuan kemanusiaan, dan penguatan ketahanan wilayah.
Dorong Kolaborasi Multi-Pihak
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, TNI/Polri, lembaga penelitian, dan mitra masyarakat internasional dinilai krusial dalam memperkuat kemampuan pertahanan nasional.
Pendekatan ini selaras dengan konsep Triple Helix dan Quintuple Helix, yang menekankan sinergi lintas sektor dalam mendorong inovasi.
“Kolaborasi pertahanan berdampak harus memiliki indikator yang jelas, seperti jumlah penelitian terapan, prototipe teknologi, paten, hingga manfaat nyata bagi masyarakat,” Kosasih.
Komitmen Kodam III/Siliwangi
Kodam III/Siliwangi berkomitmen mendukung penguatan sumber daya pertahanan melalui pendidikan, penelitian, inovasi, serta kerja sama lintas sektor.
Dengan keterlibatan aktif perguruan tinggi, Indonesia diharapkan mampu membangun sistem pertahanan yang adaptif, inovatif, mandiri, dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat daya saing bangsa di tingkat global.
Dihadiri Tokoh Penting
Kegiatan ini juga dihadiri oleh Rektor Universitas Pakuan, Prof. Dr. rer. polisi. Ir. H. Didik Notosudjono, M.Si; Kepala LPPM Universitas Pertahanan, Walikota Jenderal TNI Yudha Risniawan; Komandan Korem 061/Suryakancana, Brigjen TNI Thomas Rajunio; serta para Dandim jajaran serta civitas akademika Universitas Pakuan.
Seminar ini menjadi momentum strategi dalam memperkuat sinergi antara dunia pendidikan dan sektor pertahanan nasional. (**)