PARLEMEN ADHIKARYA
BANDUNG, elJabar.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang saat ini sudah berjalan di seluruh wilayah Jawa Barat dinilai memiliki dampak strategis tidak hanya terhadap aspek sosial masyarakat, tetapi juga terhadap pertumbuhan ekonomi daerah.
Sekretaris Komisi 3 DPRD Jawa Barat, Heri Ukasah, menilai program tersebut dapat menjadi salah satu instrumen penguatan ekonomi masyarakat jika dikelola secara tepat, transparan, dan berpihak kepada rakyat kecil.
Menurut Heri Ukasah, perkembangan ekonomi Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan yang cukup kompleks. Di tengah dinamika ekonomi global, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga perluasan dunia usaha, pemerintah daerah harus mampu menghadirkan sejumlah program yang benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat bawah.
“Program bantuan MBG tidak hanya dipandang sebagai program semata, tetapi harus menjadi bagian dari strategi besar membangun kerakyatan ekonomi. Jika dikelola dengan baik, program ini dapat menciptakan perputaran ekonomi baru di tingkat desa dan kecamatan,” ujar Heri Ukasah, kepada elJabar.com.
Jawa Barat sebagai provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia memiliki tantangan besar dalam menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. Ketimpang pembangunan antar wilayah, tingginya angka kemiskinan, serta lemahnya daya beli masyarakat menjadi pekerjaan rumah yang harus segera ditangani secara serius.
Menurut Heri Ukasah, MBG dapat menjadi salah satu solusi apabila pelaksanaannya melibatkan masyarakat lokal, pelaku UMKM, petani, hingga kelompok usaha kecil di daerah. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan penerima bantuan, tetapi juga mendorong tumbuhnya aktivitas ekonomi baru.
“Kalau pendistribusian bahan pangan, penyediaan kebutuhan, hingga program operasional yang melibatkan pelaku usaha lokal, maka uang akan berputar di daerah. Ini yang penting. Jangan sampai program besar tetapi manfaat ekonominya justru dinikmati pihak luar,” katanya.
Heri Ukasah juga menyoroti pentingnya pengawasan dalam pelaksanaan program MBG. Ia meminta seluruh pihak, baik pemerintah daerah, aparat pengawas, hingga masyarakat, ikut memastikan program berjalan adil dan tidak menimbulkan persoalan baru di lapangan.
Ia menegaskan bahwa potensi penyimpangan seperti ketidaktepatan sasaran, pembagian kuota yang tidak merata, hingga dugaan praktik kepentingan kelompok tertentu harus diantisipasi sejak awal. Menurutnya, program yang baik harus dijalankan dengan prinsip transparansi dan akuntabilitas.
“Kepercayaan masyarakat itu mahal. Jangan sampai program yang sebenarnya baik justru menimbulkan kegaduhan karena lemahnya pengawasan. Semua pihak harus menjaga agar bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan,” tegasnya.
Heri Ukasah juga menilai perkembangan ekonomi Jawa Barat mulai menunjukkan pergerakan positif di beberapa sektor, terutama sektor industri, perdagangan, dan UMKM. Namun demikian, ia mengingatkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak hanya dapat dinikmati kelompok tertentu saja.
Menurutnya, indikator keberhasilan pembangunan ekonomi bukan hanya angka pertumbuhan, tetapi sejauh mana masyarakat kecil benar-benar merasakan manfaatnya. Ia menyebut masih banyak masyarakat di daerah yang menghadapi kesulitan ekonomi, terutama akibat terbatasnya lapangan pekerjaan dan tingginya biaya hidup.
“Pertumbuhan ekonomi harus dirasakan rakyat kecil. Jangan hanya data statistiknya bagus, tapi masyarakat masih kesulitan mencari pekerjaan dan memenuhi kebutuhan hidup,” ujarnya.
Ia juga mendorong Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk memperkuat sektor ekonomi berbasis lokal dan memperluas dukungan terhadap pelaku UMKM. Menurutnya, UMKM merupakan tulang punggung ekonomi Jawa Barat yang terbukti mampu bertahan di tengah berbagai krisis.
Selain itu, Heri Ukasah menilai pembangunan infrastruktur harus terus diarahkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat. Infrastruktur yang baik, kata dia, akan membuka akses perdagangan, meningkatkan investasi, dan mempercepat distribusi hasil produksi masyarakat.
Dalam menghadapi persaingan ekonomi ke depan, ia meminta generasi muda Jawa Barat untuk mulai membangun kreativitas dan kemandirian ekonomi. Menurutnya, anak muda harus didorong menjadi pelaku usaha, tidak hanya bergantung pada lapangan kerja formal yang semakin kompetitif.
“Anak muda Jawa Barat harus berani berinovasi dan menciptakan peluang usaha sendiri. Pemerintah juga harus hadir memberikan pelatihan, akses modal, dan pendampingan,” katanya.
Ia optimistis Jawa Barat memiliki potensi besar menjadi pusat pertumbuhan ekonomi nasional apabila seluruh elemen mampu bekerja sama menjaga stabilitas sosial, keamanan, dan iklim investasi. Namun ia mengingatkan bahwa pembangunan ekonomi harus tetap berorientasi pada keadilan sosial dan kesejahteraan masyarakat.
“Jangan sampai pembangunan hanya dinikmati segelintir orang. Perekonomian Jawa Barat harus tumbuh bersama rakyat, karena tujuan utama pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat,” tutupnya. (muis)