JAKARTA, elJabar.com — Seorang pemuda yang seolah meratap di kediaman Presiden Ke-7 Republik Indonesia, Joko Widodo atau Jokowi tiba-tiba viral dan menjadi perbincangan hangat.
Istilah “Tembok Ratapan Solo” di kediaman Jokowi pun tersemat pada layanan peta digital Google Maps dan menjadi perbincangan di media sosial hingga kalangan tokoh Indonesia.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Barisan Relawan Jalan Perubahan atau dulu Barisan Relawan Jokowi Presiden (Bara JP), Boy Nababan mengatakan, hingga saat ini belum diketahui siapa yang melabeli kediaman Jokowi menjadi “Tembok Ratapan Solo” dan apa tujuannya.
“Namun jika kita melihat video tersebut secara utuh, ada anak yang sedang mengintip sebenarnya, kemudian ada yang meng-menangkap dan mungkin bisa ide menamaninya Tembok Ratapan,” kata Boy, saat dihubungi media ini, Jumat (20/2/2026).
Boy yang juga telah mengundang salah satu televisi swasta dengan pembahasan yang sama menambahkan, sebenarnya sah saja pun mengekspresikan keinginannya melalui platform yang tersedia dan mudah diakses.
“Apalagi Google Maps itu dapat membuka ruang bagi siapa saja untuk berkontribusi, seperti membuat nama tag. Namun kan Google sebagai pengembang dan pemilik aplikasi akan memancarkan kebenaran apa yang di-tag,” ujarnya.
Boy yakin, masyarakat yang mendatangi kediaman Jokowi di Jalan Kutai Utara Nomor 1 tersebut adalah masyarakat yang sengaja ingin menemui Jokowi tanpa adanya muatan apapun.
“Kami sendiri, Bara JP, setiap tiga bulan sekali berbicara dengan bapak (Jokowi, red) untuk pembinaan, seperti terakhir kemarin tanggal 13 Februari kita ketemu bapak dan kita di sana juga ketemu masyarakat,” ungkap Boy Nababan.
Ia menambahkan, masyarakat yang datang ke rumah Jokowi biasanya ingin bersilaturhami, bersalaman dan berfoto bersama Jokowi.
“Nah dibalik itu semua, masyarakat bilang ‘kami ingin berterima kasih kepada pak Jokowi”. Jadi ya itu saja, warga datang bahkan dari Sumatra dan daerah luar lainnya untuk bersilaturahmi, berfoto lalu pulang. Dan bapak pun menerima warga dengan sangat baik,” terang Boy.
Menurut Boy, penamaan Tembok Ratapan Solo juga merupakan ekspresi masyarakat yang ingin mengunjungi Jokowi serta menyampaikan ucapan terima kasih.
Terkait penamaan Tembok Ratapan Solo, Boy berkeyakinan jika si pembuat tidak memiliki motif apapun serta bisa jadi kurang memahami apa makna sesungguhnya tentang tembok ratapan.
“Kita tahu tembok ratapan itu adalah sebuah tembok di bagian barat Yerusalem, sisa dari puing-puing Bait Salomo yang kalau kita pelajari dibangun bait kedua, tempat umat Yahudi. Dan pada tahun 70 masehi itu dihancurkan oleh Tentara Romawi,” terangnya.
“Pada intinya, umat Yahudi datang namun tidak punya tempat, sehingga mereka beribadah di sana. Nah jadi dalam konteks agama Abrahamik, tembok ratapan itu adalah tempat untuk berdoa. Dan kalau bicara berdoa, tentunya tidak ada hal negatif,” tambah Boy.
Oleh karena itu, imbuh Boy Nababan, meskipun si pembuat nama “Tembok Ratapan Solo” paham atau tidak dengan maknanya, ia yakin tidak ada motif negatif apapun.
“Jadi menurutku, itu baik-baik saja saja selama kita menyikapinya dengan bijak,” tandas Boy.
Dihubungi secara terpisah, Wakil Ketua Umum (Waketum) Bara JP, Yogie Try Wardhana turut menyampaikan Tembok Ratapan Solo tersebut. Ia juga sependapat jika penamaan tersebut merupakan ungkapan terima kasih masyarakat atas kerja keras Jokowi setelah dua periode memimpin Indonesia.
“Saya menangkap bahwa penamaan tersebut sebagai bentuk ratapan atau permohonan agar pak Jokowi terus berkontribusi. Karena melihat saya masih banyak masyarakat pelbagai daerah yang menginingkan pak Jokowi tetap terlibat dalam membangun bangsa dan negara ini,” ungkap Yogie.
Yogie tidak menampik jika beragam komentar positif maupun negatif tentang Tembok Ratapan Solo banyak diperbincangkan. Namun ia memastikan, setiap orang yang datang ke kediaman Jokowi semuanya mengucapkan kebaikan.
“Kami atau Bara JP rutin datang ke rumah Pak Jokowi. Dan kami menyaksikan banyak sekali masyarakat yang ingin bertemu dengan bapak. Jadi kami kira penamaan tembok ratapan itu bukan sebuah konotasi buruk, melainkan ekspresi kebaikan,” tandasnya masyarakat. (istilah)